Karena Sering Di Bully Dan Di Ejek Oleh Korban,Begini Kata Dokter Psikolog

BANYUWANGI-centralberita.id -Karena memendam rasa jengkel diejek dengan kata-kata ‘Gendut’, ‘Boboho’, dan ‘Sumo’ (Body Shaming) salah satu alasan Ali Heri Sanjaya (27) membunuh dan membakar tubuh Rosidah (17) yang tak lain teman kerjanya di salah satu rumah makan di Banyuwangi.

Ali Heri Sanjaya usai melakukan tindak pidana tersebut terlihat tidak memiliki penyesalan apapun. Itu terlihat, dalam video yang viral di media sosial (Medsos) selama pelaku tiga hari buron. Bahkan, Bahkan, ketika mood-nya kurang bagus dapat menimbulkan rasa dendam terhadap korban bullying.

Hal ini berdampak pada perubahan prilaku dan sikap seseorang yang menjadi korban bullying. “Awalnya orang tersebut baik, namun karena kasus bully dia bisa menjadi jahat. Atau awalnya ramah, penyapa tiba-tiba berubah jadi pemarah,” ujar Betty.

“Tiga hari buron Iya (enak tidur). Aku ki nggolek i awakmu telung dino gak turu (Saya itu mencari kamu tiga hari tidak tidur),” ucap suara pria yang diduga perekam itu.

Banyak spekulasi dari berbagai pihak, bahwa ekspresi tenang dan rasa tak bersalah yang ditunjukkan pelaku merupakan ciri-ciri pengidap psikopat.

Dokter spesialis psikologi RSUD Blambangan, Betty Kumala Febriawati, kasus perundungan atau bullying memang busa menimbulkan traumatik terhadap korban. Bahkan, ketika mood-nya kurang bagus dapat menimbulkan rasa dendam terhadap korban bullying.

Terkait kasus pembunuhan dan pembakaran mayat di Banyuwangi yang dilatar belakangi body shamming, kata Bety, ini masih harus ditelusuri lebih dalam. Apakah benar, gara-gara kasus bullying pelaku kemudian tega melakukan pembunuhan sadis dengan membakar mayat korban.

Betty justru menduga ada faktor lain yang melatar belakangi kasus pembunuhan sadis tersebut. “Kalau sampai membunuh, mungkin ada faktor lain. Sakit hati atau dendam atau faktor lainnya yang membuat pelaku melakukan pembunuhan tersebut,” jelasnya.

Sebab, beberapa kasus bullying yang ditanganinya cenderung korban mengalami tekanan dan traumatik. “Banyak diantara korban bullying menjadi pemurung, bahkan berusaha menghabisi dirinya sendiri (bunuh diri) karena tekanan yang dialaminya,” paparnya.

Untuk itu, Betty menghimbau kepada masyarakat agar bisa mengenali perubahan-perubahan sikap atau perilaku orang terdekat, baik anak keluarga, maupun teman karib. “Bisa jadi, perubahan prilaku tersebut disebabkan dia menjadi korban bullying. Jika tidak ditangani, hal ini bisa berdampak pada hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Terkait dugaan pelaku mengidap psikopat, Betty mengatakan harus dilakukan penelusuran dan penelitian secara mendalam. Sebab, tidak mudah untuk mendeteksi seorang pengidap psikopat. “Harus dilakukan penelitian mendalam, mengingat kasus psikopat bukan perkara yang mudah,” ungkapnya.

Psikopat sendiri merupakan prilaku antisosial dan cenderung merugikan orang-orang terdekatnya. Dalam kasus kriminal, khususnya kasus pembunuhan, psikopat dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Dimana pelaku tidak ada penyesalan atau rasa bersalah atas kejahatan yang dilakukan.

Pengidap psikopat sulit dideteksi, karena dia selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungannya sendiri. (Oni)