Proyek Drainase “Amburadul” Pemkot Dan DPRD Mojokerto Di Demo Warga


Mojokerto, centralberita.id – Akibat  proyek drainase dikerjakan asal -asalan dan amburadul alias mangkrak, Pemkot Mojokerto dan DPRD Kota Mojokerto di demo.Aksi demo yang di lakukan oleh LSM FKMM ( Forum Komunikasi Musyawarah Mojokerto ) dengan melakukan orasi dan tulisan poster dengan bertuliskan tuntutan warga .
Aksi unjuk rasa dilakukan didepan pintu gerbang kantor PEMKOT tepatnya dijalan Gajah Mada No.145 Mojokerto,( 31/01/2020)
Orasi disampaikan oleh Korlap Aksi,Tofa ( Topeng ), Agus ( Tompel), Toha dan Rudy.
Tuntutan pendemo jelas disuarakan oleh para orator tersebut “Kami mendukung Penggunaan Hak Interpelasi para Anggota DPRD Kota Mojokerto terkai proyek amburadul”,, teriak Tompel. “Anggota DPRD yang tidak ikut mendukung interpelasi berarti tidak peduli dengan nasib ralkyat yang menderita akibat proyek drainase mangkrak”, sambung Tompel.“Wali Kota Mojokerto harus bertanggung jawab terhadap  proyek amburadul”, pungkasnya.
Dalam waktu yang sama Toha juga melakukan orasi dengan penuh semangat.Dalam orasinya Toha mengatakan DPRD harus menindak lanjuti usulan hak interpelasi yang telah diajukan oleh beberapa anggota Dewan. Jika sampai tidak dilakulan maka kami akan mengerahkan masa yang lebih besar dalam demo susulan nanti”.
“RDP 1, 2 dan 3 yang dilakukan oleh DPRD dengan mengundang pihak-pihak terkait dengan proyek irigasi yang mangkrak tidak ada artinya, Interpelasi harus jalan terus”, teriak Rudy dalam orasinya.Rudi lebih lanjut mengatakan “ Saya minta aparat penegak hukum turun tangan untuk mengusut pidana proyek amburadul tersebut”.“ Otak dari adanya proyek irigasi yang amburadul harus ditangkap dan diusut tuntas, baik oleh Wali Kota, DPRD maupun Aparat Penegak hukum”, pungkas.Sambil Membaca press release yang dibagikan oleh penitia demo terbaca tuntutan demo kali ini, yaitu :1.Gunakan hak interpelasi DPRD, dan tuntaskan segera proyek yang merugikan warga.
2.Penegak hukum ( Polisi dan Kejaksaan ) segera mengusut tuntas proyek amburadul tersebut.
3.Beri kompensasi kepada para korban  dari proyek amburadul.
4.Kembalikan proyek tersebut kepada warga Mojokerto, sebagai proyek padat karya.
5.Libatkan masyarakat dalam pengawasan PL, maupun lelang dari awal sampai akhir.
Perwakilan dari Unras dipersilahkan masuk ke gedung DPRD Kota Mojokerto, guna pemaparan tuntutan aksi,antara Pendemo dengan Pemkot dan DPRD Kota Mojokerto.
Sekitar setengah jam mediasi selesai dan kemudian Toha menyampaikan hasil mediasinya kepada awak media yang isinya antara lain. Perwakilan diterima oleh Ketua DPRD pak Itok dan pak Anang dari Bakesbangpol mewakili Wali Kota. Atas aspirasi demo, Ketua DPRD jawabnya normatif-normatif saja. Tidak ada ketegasan bahwa Interpelasi yang diajukan dipastikan dilanjut. “Kalau sampai interpelasi tidak dilanjut, maka kami akan memobilisasi masa yang lebih besar dan akan melakukan aksi-aksi yang lebih besar”, kata Toha.
Rosyad selaku ketua RT.01 RW.02 Mentikan yang juga ikut dalam perwakilan melakukan mediasi. Selesai mediasi menjelaskan bahwa proyek yang amburadul, mangkrak atau mandek sehingga belum selesai sampai sekarang adalah proyek irigasi saluran air. Got atau saluran air diperbaiki dengan pemasangan beton U sepanjang sekitar 500 m kanan kiri dengan anggaran sebesar sekitar Rp.1.000.000.000,00 ( satu milyar rupiah). Lokasi Proyek di Mentikan Gg 2 belakang SMP Islam Brawijaya.
Masih dari penjelasan pak Rosyad. “ Ndak tahu kenapa proyek ini mangkrak dan belum selesai dijerjakan, Sehingga banyak menimbulkan masalah dan membuat  celaka kepada orang.  Akibat mangkraknya proyek tersebut banyak pejalan kaki terperosok, pengendara sepeda motor terjatuh, fondasi rumah tergerus air hujan”, jelas Rosyad.
Kata Rosyad : “ Yang penting bagaimana proyek itu selesai dan tidak menimbulkan masalah “.
Unjuk rasa berakhir setelah Toha memberikan penjelasan terhadap hasil mediasi kepada para peserta unjuk rasa. ( Key)