Jebolnya Pintu Air Kedunggempol Proses Hukum Jalan Terus” KEJARI Mojokerto Terus Lakukan Penyelidikan

Foto : Dam atau Pintu Air Kedunggempol yang tinggal dua pintu saja. Sedang yang empat pintu jobol dan roboh karena tak mampu menahan tekanan arus sungai pada hari Jumat, tanggal 27 Desember 2019 malam. Padahal baru selesai dibangun/direbab tahap kedua tanggal 13 Desember 2019. (24/3/2020).

==================================

MOJOKERTO,centralberita.id – Sebagaimana telah menjadi rahasia umum bahwa pada hari Jumat, tanggal 27 Maret 2019 sekira jam 21.35 Wib Dam Atau Pintu Air Kedunggempol yang tepatnya terletak di Dusun Gempolmalang Desa Kedunggempol Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto jebol atau roboh. Dan sampai saat ini belum ada penanganannya.
Enam bagian pintu air tersisa hanya tinggal dua pintu air saja yang masih berdiri, sedang yang empat pintu air jebol, roboh akibat tak kuat menahan tekanan arus air sungai kali Sadar yang debitnya naik malam itu, walau tidak ada banjir karena Desa setempat tidak hujan.
Robohnya pintu air Kedunggempol ini berakibat kekeringan sawah-sawah di tujuh desa yang berada disekitar Kedunggempol di musim kemarau atau tidak ada hujan. Diantaranya Desa Kedunggempol sendiri, desa Ngimbangan, Jotangan, Leminggir, Kebodalem, Modopuro dan Seduri.
Banyak kalangan masyarakat yang menyayangkan jebolnya pintu air Kedunggempol tersebut. Bagunan Dam atau Pintu Air yang baru saja direhabilitasi itu bisa jebol. Padahal tak tanggung-tanggung Pemkab Mojokerto telah mengeluarkan anggaran APBD 2018 sebesar Rp. 1.960.500.000,00. Dan APBD 2029 sebesar Sebesar Rp 1.1000.000.000,00. Sehingga total anggaran rehabititasi dam dimaksud sebesar Rp. 2.060.500.000,00.
Tender rekanan penggarap rehab dam itu dimenangkan oleh CV. Karya Jaya, yang beralamatkan di Kediri. Dengan Nilai kontrak sebesar Rp 1.809.076.000,00. Rehap tahap pertama. Sementara rehap tahab kedua dimenangkan oleh CV yang sama dengan nilai kontrak Rp 978.525.000,26. Sehinggah nilai anggaran biaya rehabilitasi dam itu total sebesar Rp 2.787.601.000,26.

Rehab tahap pertama pembangunan pintu air, pintu air yang asalnya dari balok diganti dengan besi, sedangkan tahap kedua operasional manual diubah dengan mekanik elektrik dengan pengadaan genset dan dynamo.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, sekira pukul 21.45 WIB pintu Dam jebol di Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, jebol. “Ada peningkatan debit air,” ungkapnya, Sabtu (28/12/2019).
Masih kata Zaini, peningkatan debit air Kali Sadar tersebut menyebabkan adanya sumbatan di pintu dam berupa tanaman enceng gondok. Akibatnya, tanaman enceng gondok tersebut menyeret empat pintu dan enam pintu Dam Kedunggempol. Sehingga, lanjut Zaini, dari enam pintu yang ada hanya tersisa dua pintu.
“Selain menyebabkan empat pintu jebol, dampaknya tidak adanya kontrol debit air sebagaimana mestinya dan area pertanian. Pagi ini, warga dan perangkat desa melakukan kerja bakti membersihkan tanaman enceng gondok dan kangkung,” katanya.

Banyak spikulasi bermunculan menanggapi penyebab jebolnya dam Kedunggempol. Menurut keterangan yang diperoleh dari warga desa Kedunggempol, jebolnya dam bukan karena bencana alam akan tetapi penanggung jawab pembangunan dam lalai atau kurang teliti dalam melakukan kajian. Sebab sebenarnya terhadap Kali Sadar dimana Dam berada telah dilakukan program normalisasi sungai dengan mengeruk sungai dan melebarkan tanggul. Sehingga sungai semakin dalam akibatnya bangunan badan dam menggantung. Makanya bengitu dam selesai direhab tak lama kemudian jebol tak kuat menahan arus sungai yang membawa kotoran terbawa arus sungai dan membuat pintu air buntu sebab buka sedikit.

Sepekulasi yang juga disampaikan oleh warga setempat karena petugas lalai, tidak ada petugas yang jaga Dam memang dianggap tidak turun hujan keadaan normal-normal saja, padahal daerah atas pacet dll hujan deras mengakibatkan debit air naik sambil membawa kotoran dan enceng gondok. Kondisi ini menyebabkan pintu air tidak dibuka keatas secara lebar dengan mekanik elektrik yang ada menyebabkan pintu air jebol tak kuat menahan tekanan air yang kuat walau badan pintu air merupakan bangunan tinggalan Belanda.

Menurut dugaan Drs.Bambang Purwoko dari LSM Arak Mojokerto bangunan rehap Pintu Air Kedunggempol itu kwalitasnya buruk gak sesuai dengan bestek yang telah ditetapkan. Mestinnya anggaran sebesar itu ya dibangun sekali rehab terhadap baangunan badan pintu air, bukan hanya mengganti pitu air dari balok diganti dengan besi saja. “ Masak anggaran sebasar total 2,8 M untuk bangunan itu-itu saja”, ujar Bambang.

“Penanggung jawab proyek Rehap Pintu Air Kedunggempol, termasuk pihak rekanan pemenang tender CV. Karya Jaya Kediri serta pihak-pihak yang terkait harus bertanggung jawab terhadap kerugian Negara akibat jebolnya pintu air tersebut,” pungkas Bambang.
Ketika dikonfirmasi terkait penyelidikan terhadap jebolnya Pintu Air Kedunggempol oleh Kejari Mojokerto. Disampaikan bahwa proses hukum penyelidikannya telah memanggil beberapa saksi baik dari Dinas PUPR Pemkab Mojokerto, dari perangkat desa Kedunggempol dan dari pihak CV.Karya Jaya Kediri. Dan penyelikikannya masih berjalan, tinggal mendatangkan saksi ahli.
“Penyelidikannya masih berjalan kok, ini tinggal tunggu mendatangkan saksi ahli”, kata Agus Hariyono,SH Kasie Pidsus Kejari Mojokerto (27/3/2020). Sehingga belum ditentukan tersangkanya.
( Kay )