Pesan Jarot Dalam Diskusi Online Tentang Sawit Dengan Lingkungan

SINTANG (Kalbar) Centralberita.id Dengan tema “Masa Depan Kalimantan Barat di Era Sawit”. Itulah tema diskusi seru hari Rabu (08/04/2020). Dalam kesempatan ini Bupati Sintang dr H. Jarot Winarno, M. Med. PH menjadi salah satu narasumber yang dilaksanakan secara live streaming.

Dalam diskusi ini juga menghadirkan empat narasumber lain yaitu Teguh Surya Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Manseutus Darto Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit, Erlangga peneliti muda Yayasan Madani Berkelanjutan, dan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Sanggau Syafriansyah.

Jarot memaparkan banyak kebijakan dan keputusan untuk memberikan keseimbangan antara pembangunan kebun kelapa sawit dengan lingkungan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, sosial budaya dan kearifan lokal.

Menurut Bupati Sintang bahwa yang sudah tanam kelapa sawit sebanyak 174 ribu hektar. Dua perusahaan sudah RSPO, 8 perusahaan sudah ISPO sisanya sedang dalam proses.

“Kami sedang menyusun rencana induk perkebunan Kabupaten Sintang. Kami akan membuat batas toleransi luasan sawit perusahaan di Kabupaten Sintang yakni tidak lebih dari 200 ribu hektar sawit saja. Namun untuk kebun kecil masyarakat dan koperasi masyarakat, saya masih memperbolehkan. Sisanya menjadi hutan dan perkebunan lain bukan sawit seperti kopi, kakao, teh, sengkubak dan tanaman lain,” jelas Jarot.

Menurut Bupati Sintang juga terkait dengan lokasi sawit yang terletak di pedalaman yang jauh dari pusat kota, dan ini berpengaruh juga akan kontribusi sawit terhadap penurunan angka kemiskinan adalah terbukanya akses jalan menuju desa dan kampung semakin baik. Untuk angka kemiskinan di Kabupaten Sintang sendiri data baru ada untuk tahun 2019 bisa turun sampai satu digit yakni 9,6.

“Sebelumnya selalu diatas dua digit. Garis kemiskinan di Kabupaten Sintang adalah 556 ribu per kapita per bulan. Dari berbagai potensi konflik perkebunan ini, kami sudah melakukan banyak langkah dan solusi seperti merevisi ijin lokasi yang tumpang tindih, melakuka evaluasi setiap izin lokasi yang sudah berakhir masa berakunya, meningkatkan peran serta masyarakat serta multi stakeholders, dan mengimplementasikan satu peta dan satu data,” jelas Jarot.

Menurut Jarot bahwa sudah dibentuk Forum Koordinasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Kabupaten Sintang dan ini sudah melaksanakan 13 langkah untuk untuk menuju RSPO dan ISPO seluruh kebun sawit di Kabupaten Sintang. Untuk mendukung sawit yang berkelanjutan, pihaknya juga sudah dan segera mengeluarkan 7 keputusan diantaranya tentang tanggungjawab sosial perusahaan, pembangunan tanah kas desa, rencana aksi daerah kelapa sawit berkelanjutan, draft Peraturan Bupati Sintang tentang kawasan penting Kabupaten Sintang dan draft Peraturan Bupati Sintang tentang rencana induk perkebunan Kabupaten Sintang.

“Kami sudah berkoordinasi untuk pencegahan tumpang tindih lahan sudah dilakukan dan tumpang tindih pada 4 perusahaan sudah kami selesaikan semua. Pemprov Kalbar sudah mewajibkan setiap perusahaan untuk mewajibkan 7 persen HGU dalam bentuk hutan. Kita juga sudah mencabut 10 ijin perusahaan sawit karena masalah performance perusahaan dan tumbang tindih lahan dengan perusahaan lain dan hutan. Ada kami memberikan ijin, tetapi kami mewajibkan mereka untuk ISPO dan RSPO,” tambah Jarot.

Salah seorang Peneliti Muda Yayasan Madani Berkelanjutan Erlangga menyampaikan data soal perkebunan kelapa sawit dan kemiskinan di Kalimantan Barat.

“Di Kalimantan Barat itu luasan kebun kelapa sawit ada di Ketapang paling luas, menyusul Sanggau dan Sintang. Saya sangat menyayangkan bahwa lahan sawit yang luas tetapi belum memberikan kontribusi yang baik bagi kemajuan desa dan penurunan angka kemiskinan. Kami berharap Pemda melakukan inovasi untuk mendorong kehadiran perkebunan kelapa sawit ini mampu mensejahterakan masyarakat,” terang Erlangga.

Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit Mansuetus Darto memaparkan kaitan antara sawit dengan indutri, petani dan merebaknya Covid-19.

“Akibatnya merebaknya Covid-19 ini, permintaan akan sawit menurun dan menyebabkan harga TBS juga turun karena ada lockdown di pasar sawit Indonesia. Bagi petani sawit, biaya hidup semakin tinggi seiring kenaikan harga sembako. Biaya angkut TBS juga naik. Kami memberikan apresiasi semua langkah yang sudah dilaksanakan oleh Pemkab Sintang dalam menjaga sawit yang berkelanjutan seperti pembangunan Training Center di Desa Pelimping Kecamatan Kelam Permai yang sudah siap untuk melatih petani,” jelas Mansuetus.

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Teguh Surya menyampaikan dukunganya kepada Kabupaten Sintang dalam rangka pengembangan varietas lain selain sawit seperti kopi, kakao, teh atau yang lainnya.

“Kami juga berharap Pemkab Sintang terus melakukan evaluasi dan melakukan langkah penting jika ada masalah dalam hal perkebunan kelapa sawit ini. Kalau ISPO dijalankan dengan baik maka ekonomi masyarakat akan terjaga. Jaga agar jangan ada konversi hutan menjadi kebun sawit,” tutup Teguh.

Menurutnya sawit belum menjadi hal yang membanggakan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani saat ini. Resiko gagal lebih banyak dibebankan kepada petani sampai saat ini. (Tim Redaksi)

Editor: Christian Bostang Hutagaol