Siapa Peduli Nasib Awak Media Di Masa PSBB..!?

BANYUWANGI, Centralberita.id – Hingga detik ini tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti kapan pandemi virus Corona akan berakhir. Meskipun sejumlah analisa penelitian dari hasil modeling matematika, belum bisa dijadikan rujukan karena faktor-faktor yang diasumsikannya terlalu banyak.

Apalagi variabel dan atributnya dianggap konstan, padahal mutasi virus dikabarkan sudah berubah -ubah. Dan, terlepas dari semuanya, bangsa ini tidak boleh pesimis menghadapi wabah tersebut.

Pandemic Coronavirus tidak sekedar masala kesehatan semata, karena dampaknya sangat luas terhadap perekonomian dan aktivitas kehidupan. Dan, imbas dari wabah itu, banyak aksi social telah menggelontorkan sejumlah dana kepada warga, seperti tukang becak, ojol, gelandangan dan para warga yang berhak menerima.

Aksi social itu tentu sangat baik, tetapi ada yang terlupakan yaitu nasib para awak media.

Dede Farhan Aulawi.

Sementara itu, jurnalis senior, Dede Farhan Aulawi, ketika ditemui Centralberita.id, di rumahnya di kawasan Bandung, Minggu, 26 April 2020, mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh para awak media sebenarnya tidak hanya saat pandemi Corona seperti saat ini saja.

Lanjut Dede, banyak permasalahan seperti upah murah, kadang gaji telat terbayarkan, bahkan sangat rentan terhadap resiko menjadi korban kekerasan. Oleh karenanya,  harapnya, agar perusahaan pers wajib melindungi wartawan saat bertugas, memperhatikan kesejahteraannya dan membayar gaji secara profesional dan tepat waktu.

” Apalagi di masa pandemi Corona, saat mendapat tugas liputan di lapangan tentu sangat beresiko terpapar virus,” terang Dede, ketika berwawancara bersama Centralberita.id, Minggu, 26 April 2020.

Dede berharap, agar para jurnalis memperhatikan keselamatan, dan gunakan alat pelindung diri, dan tidak lupa untuk menjaga stamina tubuh dan kebersihan. Masih harapnya, saat pulang bertugas segera pulang ke rumah, mandi dan cuci pakaian guna memastikan kondisi badan bersih.

Lebih jauh Dede berharap, jika tidak terlalu terpaksa harus ke lapangan, bekerja di rumah tentu akan lebih baik. Perbanyak network terutama dengan para jurnalis senior agar bisa berbagi news atau opini tanpa harus dibayar alias tidak minta upah.

“Masih ada berita atau informasi yang bisa dimuat tanpa mengeluarkan biaya dan minim resiko, kok,” ungkap Dede.

Kepada Centralberita.id, Dede mengatakan bahwa selama 23 tahun dirinya menjadi seorang ‘kuli tinta’, tahu persis lika – liku dan kesulitan seorang jurnalis. Masih katanya Dede, dan untuk memperoleh berita itu tentu tidak mudah, karena harus jelas sumber informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Informasi mesti valid dan up to date.

“Untuk mendapatkan informasi tersebut kadangkala ada ‘tuduhan atau sangkaan’ sehingga untuk bertemu saja susah. Belum lagi ketika meliput di lapangan selalu ada resiko tindak kekerasan,” urai Dede.

Dan, ketika Dede dicecar pertanyaan atas kesejahteraan, kemudian siapa yang memperhatikan dan mempedulikan para jurnalis saat di tengah pusaran wabah Coronavirus di negeri ini?  

“Apakah profesi jurnalistik termasuk profesi yang dapat menerima bantuan,? tanya balik jurnalis senior, itu.

Kemudian ia memompakan semangat agar profesi jurnalis harus bersatu memperjuangkan kesejahteraan, karena kalau bukan dirinya yang memperjuangkan, lalu siapa lagi ? Masih kata Dede, dan juga para awak media online yang mengandalkan pendapatan dari sponsor, dimana besarnya tergantung pada traffic media tersebut.

“Sementara saat seperti ini, mendapatkan sponsor tentu juga tidak mudah. Oleh karena itu sudah selayaknya pemerintah ikut membantu meringankan beban para awak media ini “, pungkas Dede, ketika memungkasi interview – nya bersama Centralberita.id, Minggu, 26 April 2020.

Kalimat terakhir Dede, ia menghimbau teman-teman awak media untuk berhati-hati saat bertugas dan mengikuti protokol peliputan dan kesehatan serta keselamatan. Himbaunya lagi, giat bekerja, cerdas meliput dan menarik dalam penyajian beritanya.

“Berita itu tidak harus ‘Bad news is a good news’ , How to educate the public to keep healthy is our moral responsibillity, ” Jelas Dede, edukatif. (ONI)