Dengan Melindungi Hak Para Peladang Pemkab Sintang Terbitkan Perbup Nomor 18 Tahun 2020

SINTANG (Kalbar), Centralberita.id Bertempat di Gedung Serbaguna Langkau Kita Kecamatan Sepauk Wakil Bupati Sintang Drs. Askiman, MM Kamis (18/06/ 2020), memimpin kegiatan Sosialisasi Peraturan Bupati Sintang Nomor 18 Tahun 2020 terkait tata cara membakar lahan bagi masyarakat Kabupaten Sintang.

Ditegaskan Wakil Bupati Sintang bahwa Perbup tersebut merupakan perlindungan hukum bagi warga masyarakat yang akan melakukan aktivitas berladang dan bertani secara tradisional.

“Caranya aturan yang sudah ditetapkan ini harus dipenuhi, dipatuhi dan dilaksanakan. Perbup akan memberikan perlindungan secara administratif kepada warga. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya surat pemberitahuan yang harus di isi oleh warga yang akan membuka lahan untuk berladang. Setelah diisi dan serahkan kepada kepala desa, selesai. Selanjutnya kepala desa yang melakukan rekap luas ladang, lokasi dan jadwal membakar ladang. Supaya kemudian diatur dengan baik,” jelasAskiman.

Menurut Askiman terkait Perbup tersebut bisa dilaksanakan atau tidak tergantung peranan kepala desa dan perangkatnya.

“Untuk itu, saya sangat mengharapkan peran aktif perangkat desa dan kepala desa untuk melakukan musyawarah dan mensosialisasi kepada warga dengan baik sampai ketingkat dusun sehingga kita tahu berapa jumlah lahan yang akan dibuka untuk berladang dan dibuat jadwal pembakaran di setiap dusun dengan tahapan di bagi perhektar,” ungkap Wakil Bupati Sintang.

Askiman juga menjelaskan ketika masyarakat hendak membakar lahan agar melakukan secara gotong royong, saling menjaga dan membantu. Dengan begitu, api tidak akan menjalar ke luar lahan lain. Selesai dibakar agar api segera dipadamkan. sehingga tidak akan merugikan warga lain, tidak merusak hutan serta menjaga keseimbangan alam.

“Setelah sosialisasi ini, saya minta kepada pihak kecamatan untuk menyusun jadwal untuk turun ke desa-desa. Lakukan sosialisasi lagi kepada masyarakat bagaimana cara berladang dengan benar menurut aturan pemerintah sehingga tidak ada warga masyarakat desa yang berladang berurusan dengan pihak hukum. Kades juga harus kerja keras. Siapkan format isian yang harus diisi oleh warga,” tambah Askiman.

Asiman juga mengatakan terkait dengan tradisi orang Dayak dalam menjaga adat istiadat dari nenek moyang, bahwa ini harus dilestarikan. Karena berladang dengan cara membakar tersebut tidak bisa dihilangkan.

“Masyarakat Dayak percaya membakar ladang ini bisa untuk mencegah hama dan membuat tanah lebih subur. Namun kita harus tetap menjaga kelestarian alam yang ada disekitar kita. Dengan adanya Perbup ini, kita diatur cara membuka dan membakar ladang. Untuk mencegah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh asap yang pekat dari hasil membakar ladang,” pungkas Wakil Bupati Sintang.

Editor : Christian Bostang Hutagaol