Kesandung ” Pasal Pengrusakan,Pelni Rompis Tunjuk Raden Bomba Sebagai Pengacaranya

BANYUWANGI, Centralberita.id _ Pelni Rompis tidak sendirian dalam menghadapi perkara hukum yang menjeratnya. Mantan petinju nasional itu menunjuk R. Bomba Sugiarto sebagai penasihat hukumnya. Sejak diamankan hingga dimintai keterangan di Mapolresta Banyuwangi Selasa malam (16/6/20), Bomba selalu mendampingi kliennya tersebut.

”Klien kami belum tentu bersalah. Sebagai mantan petinju, dia melakukan gerakan refleks. Emosinya terpancing saat harus mondar-mandir dari satu meja ke meja pejabat Dispendukcapil,” kata Bomba kepada Centralberita.id dihubungi usai mendampingi Pelni di Mapolresta Banyuwangi kemarin.

Diungkapkan Bomba, untuk mengurus perbaikan data nama pada KK dan KTP-el, Pelni sempat menemui Kasi Identitas Penduduk Banyuwangi Eva Zulfiyah Manshur, Sekretaris Dispendukcapil, Kadispendukcapil, dan Sespri Kadispendukcapil. Karena harus di ‘Pingpong’ ke sana kemari, jiwa petinju Pelni muntab. Dia melakukan gerakan refleks hingga harus merusak barang-barang di kantor Dispendukcapil.
”Semua tahu kalau Pak Pelni itu mantan petinju. Dia juga tokoh olahraga di Banyuwangi. Secara psikologis dia pantas marah karena begitu ribet ngurus perbaikan data nama pada KK dan KTP-el,” jelas Bomba dengan tegas.

Pengacara yang baru saja dinobatkan sebagai Runner- Up Polling Calon Bupati Pilihan Pembaca Jawa Pos Radar Banyuwangi itu, mengapresiasi langkah penyidik menangani kasus ini. Hanya, Bomba keberatan kalau jeratan hukum yang dikenakan kepada kliennya memakai pasal 406 KUHP.

Pasal tersebut mengatur barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat dipakai, atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

”Klien kami tidak sengaja melakukan perbuatan tersebut. Kondisinya kurang fit. Ada yang mendorong-dorong klien kami sehingga terpancing emosinya. Sekali lagi, tidak ada rencana dan niat buruk untuk merusak barang-barang di Dispendukcapil. Penyidik harus bisa melihat latar belakang klien kami tersebut,” jelas Bomba.

Bomba minta kasus ini tidak dipolitisasi. Semua tahu kalau Pelni selama ini cukup vokal menyoroti persoalan-persoalan sosial, hukum, dan ketimpangan pembangunan yang terjadi di masyarakat. Gara-gara terlalu vokal tersebut, kliennya menjadi musuh bersama. ”Ini murni masalah hukum. Jangan ada intervensi politis dalam menjerat klien kami. Penyidik harus tetap menjaga independensinya,” tegas Bomba.

Dalam kesempatan tersebut, Bomba juga meminta Kapolresta Kombespol Arman Asmara Syarifuddin untuk menangguhkan penahanan kliennya. Surat pengajuan penangguhan sudah disusun dan siap diajukan ke Kapolresta. ”Harapan kami tidak ada like and dislike dalam menangani perkara ini. Yang perlu dicatat adalah klien kami tidak sengaja melakukan perbuatan perusakan. Murni refleks karena terpancing emosinya,” tandasnya. (Oni/dd)