Limbah Pabrik Minyak Sawit Yang Mengalir Ke Sungai Sekayam Milik PT. GKM Resahkan Warga Dusun Setogor

SANGGAU (Kalbar), Centralberita.id Limbah Pabrik Minyak Sawit (PMS) milik perusahaan Perkebunan PT. Global Kalimantan Makmur (PT. GKM) yang beberapa tahun ini trlah diambil alih oleh PT. Jarum, yang lokasinya terletak di Dusun Setogor, Desa Sotok, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Dari hasil pantau media ini, yang mana akhir-akhir ini perusahan tersebut sudah sering kali membuang limbah minyak ke Sungai Sekayam, tentunya limbah tersebut sudah mengalir melalui anak sungai yang ada di lokasi tersebut.

Sehingga saat ini juga dampak tampias larinya limbah itu menuju arah aliran sungai Sekayam yang berada di muara Dusun Kubing hingga ke muara Desa Kasromego, Kecamatan Beduai Kabupaten Sanggau yang sampai saat ini sudah mengkuatirkan atas pencemaran limbah tersebut.

Jadi jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan hidup, baik bagi manusia, hewan satwa dan tumbuhan yang ada di sungai tersebut.

Dari sumber yang didapat berdasarkan informasi dari salah satu warga keladang yang biasa di panggil Kacim yang juga sangat mengeluhkan limbah pabrik tersebut.

“Jelas, ini sangat merugikan masyarakat banyak diwilayah ini, contohnya saya sendiri, pekerjaan saya adalah sebagai petani, selain berladang saya juga biasa mencari ikan, dimana lokasi ladang saya persis tidak seberapa jauh dari anak sungai Inip,” ungkap Kacim.

Dijelaskan Kacim juga selama itulah dirinya mendapatkan hasil padi juga ikan untuk menghidupi keluarga serta cucu- cucunya untuk kebutuhan makan sehari-hari.

“Tapi kini saya sudah tidak bisa mencari nafkah ditempat aliran anak sungai inip, karena jika musim hujan aliran anak sungai Inip sudah berubah menjadi coklat kehitam-hitaman ditambah lagi bau menyengat yang luar biasa kondisi air sudah seperti oli, melekat dan yang lebih parahnya lagi, segala ikan-ikan yang ada di sungai inip tersebut mati semua, termasuk ladang padi yang saya tanampun mengalami dampak yang serupa,” Kata Kacim kepada media ini dengan sangat kecewa.

Dijelaskan Kacim, bahwa kejadian itu dimulai sejak tahun 2018 hingga sekarang, nampaknya pihak manajemen Perusahaan PT. GKM dan PT. JARUM nampaknya kebal hukum, sebagai bukti hingga sampai berita ini di tayangkan, sejumlah kolam yang berada di belakang pabrik minyak sawit masih juga belum ada di perbaiki pihak perusahaan tersebut.

“Limbah cair pabrik minyak sawit (LCPKS) atau yang lebih dikenal dengan istilah Palm Oil mill Effluent (POME) adalah salah satu produk samping dari pabrik minyak sawit (PMS) yang berasal dari kondensat dari proses sterilisasi, air hydrocyclone (Clybath) dan air pencucian pabrik yang suhunya mencapai 70-80 derajat celsius, berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa coloid dan residu minyak dengan Biological Oxygent demant (BOD) dan Chemical Oxygent demant (COD) yang sangat tinggi,” jelas Kacim kembali.

Kacim juga menjelaskan lebih lanjut apabila limbah cair ini mengalir ke sungai Sekayam, maka secara otomatis akan terjadi pencemaran lingkungan dan akan mengendap terurai secara perlahan mengkonsumsi oksigen terlarut menimbulkan kekeruhan, mengeluarkan bau yang menyengat.

“Dan ini dapat merusak ekosistem lingkungan bagi kehidupan hingga menimbulkan kematian pada tanaman yang tumbuh, segala ikan-ikan dalam sungai bahkan bagi manusia itu sendiri dan ini sudah termaktub dalam pasal 14 ayat (2) undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup perlu menetapkan peraturan pemerintah tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air,” jelas Kacim.

Pelanggaran terhadap undang-undang perlindungan lingkungan hidup (PPLH) menurut undang-undang No. 32 tahun 2009 pasal 1 ayat 2 adalah upaya sistematis dan terpadu untuk melakukan fungsi lingkungan hidup. Dan hal ini sudah tercantum dalam Bab XV tentang ketentuan pidana pasal 97-123 salah satunya adalah dalam pasal 103.

Dikatakan setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan sama sekali tidak melakukan pengolahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, di pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama tiga (3) tahun serta denda paling sedikitnya 1.000.000.000.00 (satu milyar rupiah) hingga paling banyak 3.000.000.000.00 (tiga miliar rupiah).

Menurut koordinator Lembaga TINDAK INDONESIA Yayat Darmawi, SE, SH, MH saat dihubungi media ini via WhatsApp, Sabtu, 27/6/2020 mengatakan bahwa terkait dengan kejahatan Lingkungan hidup yang dilakukan Pabrik Minyak Sawit milik PT. GKM dan PT. Jarum mestinya penegakkan hukum dilakukan  secara cepat dan tegas penerapan sanksinya baik pidana maupun perdatanya,” jelas Yayat.

Karena menurut Yayat  secara tegas merupakan pelanggaran hukum lingkungan hidup yang berdampak mencemarkan air atau udara menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH).

Dalam hal ini juga pihak korporasi semestinya cepat koordinasi dengan para pihak untuk mencari solusi bukannya justru menghindar dan mencari pembenaran sedangkan fakta- fakta dilapangan sudah dimiliki oleh pihak media untuk memastikan secara akurat dan pasti pihak Lingkungan Hidup (LH) harus melakukan uji Lab air yang menjadi objek tercemarnya aliran sungai Sekayam.

Situasi pelanggaran hukum atas perbuatan perusahaan yang dengan sengaja kedapatan membuang limbahnya sehingga menyebabkan tercemarnya aliran sungai Sekayam, apalagi air yang tercemar tersebut mengandung unsur-unsur kimia yang membahayakan masyarakat, maka harus dilakukan proses litigasi Pengadilan untuk membuat efek jera terhadap perusahaan tersebut.

Kepada instansi terkait khususnya Kementerian Lingkungan Hidup RI, baik yang berada di Kabupaten Sanggau, dan Provinsi Kalimantan Barat serta Kementerian Lungkungan Hidup Republik Indonesia di Jakarta, untuk melakukan penindakan kepada pihak Perusahaan PT. Global Kalimantan Makmur (PT. GKM) yang kini sudah di take over kepada PT. Jarum terkait pembiaran dengan sengaja membuang limbah sawit hingga mencemari aliran sungai Sekayam.

Tim Biro Sanggau