Larang Usaha Hiburan Malam Beroperasi Perwali No 33/2020 Resahkan Para Pekerja

Insert foto: Ketua Hiperhu Surabaya, George Handiwiyanto (kiri), Ketua Badan Buruh dan Pekerja (BBP) Pemuda Pancasila Kota Surabaya (kanan)

SURABAYA,centralberita.id – Pekerja dunia hiburan umum resah. Setelah 3 bulan lebih tutup. Kini harus tutup kembali setelah keluarnya perwali terbaru no 33 tahun 2020 pengganti Perwali no 28 tahun 2020.

Dimana dalam Perwali tersebut melarang semua hiburan umum untuk beroperasi. Kecuali Salon/Barbershop. Arena Permainan. Gelanggang Olah Raga.

“Saya dan teman- teman selaku pekerja di tempat hiburan malam terpaksa nganggur lagi, tak bisa berbuat apalagi untuk menghidupi anak istri”, ungkap Iwan.

Kami sudah pernah nganggur 3 bulan lebih akibat PSBB, namun sekarang baru menikmati gaji setengah bulan minta ditutup lagi, apa Ibunda Walikota pernah memikirkan bagaimana nasib kami selaku pekerja malam”, tambah Iwan.

Selain para pekerja di RHU mengeluh, sejumlah Security yang jaga malam di RHU juga resah tentang nasib nya yang kesulitan dalam mengais rejeki untuk menghidupi keluarga.

Sementara para pengusahanya juga pusing karena harus berurusan dengan tagihan Bank. Masalah kontrak tempat juga menjadi permasalahan yang harus diselesaikan.

Menanggapi Perwali terbaru tersebut, George Handiwiyanto Ketua Hiperhu Surabaya menyatakan. Hiperhu masih koordnasi dengan Dinas Pariwisata tentang tehnis sebenarnya.

“Pengusahanya siap menjalankan arahan sesuai dengan petunjuk pemerintah yang sebelum nya. Ternyata keluar peraturan baru lagi. Yang membuat pengusaha merasa di ombang ambingkan” kata George.

Masih Ketua Hiperhu George Handiwiyanto, “Ya mas mestinya pemerintah buat pemetaan wilayah dan kelompok mana yang covid nya meningkat. Dan harus ada penelitian, menurut saya yang utama masing- masing pribadi harus bisa menjaga kesehatan nya dengan menjadi fisiknya sehat, tidur cukup dan makan bergizi serta minum vitamin c yang cukup dan olah raga”, paparnya.

Lebih lanjut George menandaskan, kalau keluar rumah selalu pakai masker dan selalu bawa hand sanitizer. Tangan harus sering di semprot setelah pegang benda2 dan kalau pulang kerumah harus langsung cuci tangan, ganti baju terus mandi. Sesuai petunjuk yang sudah di sampaikan pemerintah lewat Protap Covid, tutup George.

Ditempat terpisah Ketua Badan Buruh dan Pekerja (BBP) Pemuda Pancasila Kota Surabaya Nurdin Longgari, mengomentari terkait Perwali Nomor 33 Perubahan dari Perwali 28, menurutnya Perwali 33 tersebut sangat menyiksa para pekerja malam.

“Seharusnya Ibu Tri Rismaharini sebagai Walikota, tidak terlalu kejam menerbitkan Perwali 33, utamanya pasal 20, dimana dalam Perwali tersebut melarang semua hiburan umum untuk beroperasi. Kecuali Salon/Barbershop. Arena Permainan. Gelanggang Olah Raga”, ungkap Nurdin.

Lanjut Nurdin, jika Perwali 33 Kota Surabaya, yang diterapkan, maka ini ada perlakukan diskriminatif terhadap pekerja malam di tempat kerja. Pekerja malam hari harus memiliki hak yang sama dengan pekerja siang hari.

“Seharusnya Walikota Surabaya tidak perlakuan diskriminatif terhadap pekerja malam hari melalui Perwali 33 Kota Surabaya. Jadi pekerja malam memiliki hak yang sama dengan pekerja siang hari”, katanya.

Nurdin juga mengingatkan bahwa jelang normal baru agar para pekerja malam untuk memperhatikan protokol kesehatan saat beraktivitas agar tetap produktif tapi aman dari Covid-19.

“Dengan demikian kita bisa menekan penyebaran virus Covid-19, tapi kita juga bisa menjaga kesehatan dari masyarakat khususnya masyarakat pekerja”, pungkasnya. (red).