TIDAK ADA FIGUR YANG KUAT DI PILWALI SURABAYA 2020

Caption: foto SAMSURIN, Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kota Surabaya dan Koordinator Koalisi Membangun Surabaya (KMS) .

SURABAYA, centralberita.id – Enam belas hari lagi KPUD Kota Surabaya menutup pendaftaran bakal calon walikota dan wakil Walikota Surabaya, 16 parpol di Surabaya siap adu strategi, menyiapkan jago yang akan bertarung di pilwali 9 desember 2020 nanti. 9 parpol siap siap berkoalisi memberi rekom ke Machfud Arifin atau lebih sering disebut MA .

1 parpol besar sekelas PDIP ( incumben) masih menscreening atau bingung mengusung calon , bukan tak punya gaco tapi over stock kader kadernya.
Dan ada lagi 6 parpol yang menunjukkan komitmen berkoalisai mendukung salah satu calon dengan syarat memiliki konsep yang matang untuk pembangunan surabaya 5 tahun kedepan yang adil dan merata serta mementingkan kesejahteraan warga surabaya. Yaitu partai non parlemen.

Fakta mengatakan bahwa tingkat partisipasi warga kota surabaya terhadap pilwali disurabaya, sangatlah rendah, 54 persen warga surabaya memilih sikap golput, atau tidak ikut memilih setiap ada gelaran pemilihan walikota, artinya golput selalu menang dikota surabaya.
Jadi saya katakan pada para kandidat nanti jangan terlalu percaya diri karena kalian semua hanya bertarung dengan sistem,

Bukan bertarung untuk mendapat separuh dari suara rakyat surabaya. Dari daftar pemilih tetap. Cuma 45 % yang akan datang ke TPS. Dan itu adalah karena kerja keras sistem yang saya maksud adalah, partai – partai, elemen masyarkat, para relawan. Atau tim pemenangan yang turun ke grassroot.” Ungkap Samsurin ketua DPC Partai Bulan Bintang kota Surabaya yang juga sebagai koordinator koalisi non parlemen dikota surabaya atau KMS – koalisi membangun surabaya yang baru saja sukses dideklarasikan (19/08/2020)

Lanjut Surin, Kata siapa ada figur kuat. Risma pun bukan tokoh yang kuat, kemenangan Risma – whisnu di pilwali 2015 hanya meraup sebanyak 875.261 , atau 44 persen dari daftar pemilih tetap 1.985.876 pada waktu itu. Padahal hanya ada dua pasangan calon yaitu risma -whisnu ( PDIP ) versus Rasiyo -Lucy (koalisi PAN dan Partai Demokrat) Dan Dari dua pasangan calon yang bertarung. Golput disurabaya masih menang, Artinya ada kekuatan 56 persen yang tidak memilih Risma – Whisnu.

Dari 44 persen kemenangan risma, itu adalah mesin partai pdip yang memiliki suara militan 10 persen dari penduduk kota surabaya, atau memiliki 34 persen dari jumlah daftar pemilih tetap. Dan itu adalah kerja keras whisnu selaku ketua DPC PDIP kala itu yang bisa sukses mengendalikan soliditas partai, artinya jika di bandingkan suara yang diraup oleh risma tentu lebih kuat suara partai atau suara whisnu sakti buana.

Jika whisnu tak mendapatan rekom dari bu mega . Sangat disayangkan karena pemilih yang mempunyai ikatan emosional dengan whisnu akan lari ke lumbung golput.

PDIP hanya perlu mempertahankan tradisi abang ijo di pilwali kali ini. Dari figur ke-ijo-an, ada gus hans yang bisa mengurai suara di tubuh koalisi MA, yaitu suara PKB atau Nahdliyin, Suara Jaringan Kiyai santri, dan suara intelektual muda islam yang lahir dari kampus (santri milenial). Apalagi gus hans bisa menjadi nilai tawar yang bisa merusak pilar koalisi di MA . Karena golkar memberi dukungan penuh pada gus hans untuk memilih calon walikota yang bisa diajaknya bergandeng renteng menuju 9 desember 2020. Walaupun golkar berdiri di koalisi MA, tapi dengan catatan tegas, yaitu nama gus hans , gus hans bisa menjadi merah atau pelangi dalam pilwali 2020 ini.“ Tegas Surin menjelaskan. (Bledex)