Selama Empat Hari Ritual Adat, Tiga Koperasi Lakukan Pemagaran Terhadap PT. GKM

SANGGAU (Kalbar), Centralberita.id Saat ini tiga Koperasi yakni Koperasi Lanta Lomur, Tuah Buno, Bupulu Lomur,yang tergabung dalam forum komunikasi perkebunan di Empat Kecamatan yaitu Kecamatan Noyan, Sekayam, Beduai dan Kembayan kembali mendatangi PT GKM (Global Kalimantan Makmur) yang sekarang PT. HPI yang bertempat di Dusun Setogor, Desa Sotok, Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, Pada Rabu (26/08/2020).

Kedatangan Pengurus dan Anggota Koperasi tersebut yang di pimpin langsung Korlap, Diky, S.Hut, Caca, S.Pd, dan Antonius Pinsen dari tiga Koperasi menyampaikan Orasinya di depan Kantor Pabrik PT. GKM dan melakukan pemagaran serta di lakukan degan ritual adat.

Upaya penyampaian orasi hingga melakukan pemagaran tersebut berawal dari tidak pernah adanya titik temu antara Koperasi sebagai Mitra Perusahan dan PT. GKM itu sendiri.

Menurut Dicky, salah satu Koorlap (Koordinator Lapangan) bahwa orasi tersebut di lakukan karena selama ini setiap komunikasi dengan pihak perusahaan tidak pernah adanya penyelsayan dan mendapatkan jawaban.

“Jadi banyak hal selama ini yang telah kami komunikasikan tidak pernah mengalami titik temu,jadi pada kali ini kami mencoba kali ini mau tidak mau,pabrik ini kami tutup dengan tujuan biar perusahaan lebih serius menangani permasalahan ini,” kata Dicky.

Bahwa puncak permasalahan yang belum juga terselesaikan sampai saat ini, dan banyak hal yang perlu diselesaikan dengan musyawarah.

Dicky menilai dengan tidak bisa di selesaikannya permasalahan tersebut akibat dari banyaknya kepentingan kepentingan oknum tertentu, sedangkan dirinya berdiri hari ini bersama pengurus koperasi lainnya dalam rangka mewakili petani plasma.

“Proses penutupan Pabrik oleh tiga Koprasi tersebut dilakukan hingga adanya pembicaraan lebih lanjut dan duduk bersama dalam pembahasan hingga tuntutan tuntutan 3 koprasi yang menjadi mitra PT.GKM,” ungkap Dicky.

Pernyataan sikap Dari Koprasi Bopulu Lomor Kami dari Pengurus dan Pengawas Koperasi Perkebunan Bupulu Lomour dengan ini menyatakan sikap yang intinya tidak ada penyelesaian.

“Yang pertama kami tidak akan pernah mengakui dan menerima dana talangan yang sudah dikeluarkan oleh pihak managemen perususahaan PT. GKM dan PT. SML karena tidak pernah ada rincian tertulis secara detail penggunaan anggaran dana talangan tersebut mulai dari awal sampai sekarang yang
jumlahnya fantastis mencapai angka Rp. 54.076.490.368,-,” jelas Dicky.

Dicky juga mengatakan dengan adanya ini semua mengakibatkan hutang piutang Kopbun Bupulu Lomour semakin membengkak ditambah dengan hutang di Bank Mandiri yang juga Awalnya diusulkan 39.000.000.000 tetapi pengakuan perusahaan hanya 33.000.000.000 lebih.

“Yang juga kami hanya mendapat informasi dari bulan desember 2019 sampai dengan bulan mei
2020 yang tersisa hanya Rp 17.724.609.906,-,” ungkap Dicky.

Dicky bersama pihak Koperasi tetap akan mengakui hutang piutang Kopbun Bupulu lomour di Bank Madiri dengan meminta kepada pihak managemen perusahaan untuk memberi rincian mulai dari awal pembayaran sampai dengan sekarang karena itu merupakan kesepakatan yang tertulis antara Kopbun Bupulu Lomour dan Pihak PT. GKM dan PT. SML.

“Ketiga kami tidak pernah dilibatkan dalam proses akuasisi dari PT. GKM ke Providen Agro dan PT. Providen Agro kepada PT. HPI dengan harga yang fantastis juga yaitu PT. GKM dinilai sebesar Rp. 1.506.185.000.000,- dan PT. SML dinilai sebesar Rp. 595.995.000.000,-,” jelas Dicky kembali.

Sehingga dalam ini menurut penjelasan Dicky juga bahwa managemen yang baru sepertinya tidak pernah mau tahu mengenai perjanjian yang mengikat antara pihak Kopbun Bupulu Lomour dan PT. Semai Lestari sehingga diabaikan isi perjanjian dan kesepakatan didalamnya.

“Padahal perjanjian sudah di tanda tangani bersama antara kedua belah pihak yang bermitra dan ditanda tangani juga oleh Bupati Ir. Haji Setiman Sudin bersama Kadis Hutbun Kabupaen Sanggau Sumadi Haryoko, S.Sos, M.Si,” jelas Dicky lagi.

Dicky bersama rekannya meminta kepada pihak perusahaan untuk duduk bersama dalam membicarakan hak dan kewajiban yang mengikat dan tertuang didalam surat perjanjian kerjasama Kopbun Bupulu Lomour dengan PT. Semai Lestari dalam rangka pembangunan dan pengelolaan proyek perkebunan kelapa sawit dengan pola inti plasma. (Fernando Manurung)

Editor : Christian Bostang Hutagaol