Abaikan Instruksi Kapolri..?! Laporan Perampasan Mobil Tak Direspon …Ada Apa Dengan Polres Kab.Mojokerto..?”

Mojokerto,CentralBerit.id -Aksi arogansi debcolector kembali berulah, Misruki ( korban) mengalami tindakan kekerasan dengan dirampasnya unit mobil suzuki ErTiga Type GX dengan nopol L.1820 RI .
Dalam keteranganya korban sempat dibuntuti , tepatnya di raya jabon dekat terminal ,mobil yang dikendarainya di gedor  dan dihadang 12 orang ,ucap korban pada jurnalis central berita.
Tidak sampai di situ saja mas, saya dipaksa turun dan saya ditarik dipaksa turun dari mobil dengan empat pelaku tanpa ada penjelasan  saya disuruh menanda tangani surat namun sebelum sempat saya baca mobil sudah di bawa kabur dan surat 2 lembar di lempar ditaruh dijalan raya ,ucapnya.

Dengan kejadian tersebut “Dody Firmansyah wasekjend LEMBAKUM Pusat ikut angkat bicara dengan kejadian tersebut , kenapa Polres kabupaten Mojokerto tidak menaggapi laporan dengan kejadian tersebut dengan alasan tidak cukup bukti ,bahkan korban diarahkan ke leasing untuk minta penjelasan agar jelas pelakunnya,ini kan lucu dan akal-akalan saja,ungkapnya.

Rupanya instruksi Kapolri Idham Azis ,terkait pelarangan penagihan dengan dilakukan penarikan paksa di jalan raya terhadap kendaraan leasing oleh pihak lembaga ke-uangan tidak digubris sama sekali bahkan kenapa pelaporan korban di tolak oleh pihak Polres kabupaten Mojokerto selaku pengayom masyarakat ,mana sikap Promoter POLRI, ucap Wasekjend Pusat Lembakum.
Dengan kejadian tersebut ,Misruki (korban ) berharap agar pihak kepolisian segera merespon kejadian tersebut yang dilakukan PT.OPPU Ambar Raja Maligas Finance yang ber-kantor di jalan Ruko Boulevard The Tamab Dhika No.10 Irian Jaya Pager Wojo Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur.
Misruki ( korban ) berharap pihak Polres menaggapi laporan saya mas dan apabila tidak ada tanggapan ,maka saya bersama kuasa hukum saya akan menempuh jalur hukum ke Polda Jatim untuk melaporkan ulah arogan oknum p leasing ,ungkap korban.

Ditemui ditempat terpisah H.Wafa selaku keluarga korban yang juga salah satu wartawan berita TKP sangat kecewa dengan ditolaknya pelaporannya.

H.Wafa saat mendampingi keluarganya  mengatakan bahwa benar telah terjadi penarikan dengan paksa unit mobil Ertiga saat digunakan dijalan .
Laporan keluarga saya kok gak diproses ,ada apa ini….?! padahal bukti surat penarikanya juga sudah ada dan korban juga memberikan keterangan,ini aneh mas,ucapnya pada media centralberita.id.

“Laporan saudara saya terkait perampasanya kok malah tidak langsung di terima, masih ada alasan mas, kedatangan saya kesini mendampingi keluarga saya, kok malah cerita bahwa tidak ada yang kebal hukum, wartawan kalau salah juga dihukum. semuanya pasti sebab musabab. apalagi mobilnya terlambat (bayar),” ujar wafa menirukan salah seorang anggota polres kabupaten Mojokerto yang ditemui di Polres.

Perlu diingat ketika masyarakat yang merasa dirugikan atau yang membuat ketidaknyamanan atau debt kolektor yang merampas dijalan, seharusnya pihak korban melaporkan kepihak kepolisian harus ditanggapi dengan serius apalagi sesuai dengan instruksi Kapolri,”tegas Dodik Firmansyah

Mengacu pada putusan MK Nomor 18/PPU-XVII/2019 dan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011,
jelas bahwa PT Oppu Ambar Rajamaligas Sidoarjo telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Berdasarkan ketentuan yang ada, yang berhak mengeksekusi barang jaminan (fidusia) kendaraan bermasalah adalah kepolisian atas keputusan pengadilan.

Terkait apa yang dilakukan oknum Debcolector itu sudah salah fatal dan yang berhak untuk menyita itu pihak pengadilan dan harus didasari surat dari pengadilan bukan oknum debtcolector dan itu tidak dibenarkan, jelas itu murni perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana pada pasal 368 KUHP junto pasal 365 KUHP,” tegas Dodik Firmansyah saat ditemui di kantor Lembakum Indonesia di jalan Wonorejo 4/66A Pasar Kembang Surabaya

Lanjut Dodik, pihaknya akan mengawal kasus tersebut sampai selesai,” pungkas Dodik. ( Redaksi )