Julkarnain Sagala Ungkapkan Sudah Dua Bulan Belum Ada Status Perkara Kliennya

SANGGAU (Kalbar) Centralberita.id Seorang pria bernama Amat Durani berusia 39 tahun warga Desa Janjang Kecamatan Tayan Hulu Kabupaten Sanggau merasa diperlakukan tidak adil oleh polisi dalam hal penanganan perkara yang menuduhnya melakukan dugaan pencurian buah kelapa sawit milik PT. Agro Palindo Sakti (APS) karena hingga 65 hari tidak juga ada penetapan status perkaranya.

Terkait penahanan mobil dan sepeda motornya, Amat merasa dirugikan. Menurut Fransiskus Sagala, bahwa Kapolres Sanggau melalui kanit 3 tipider mengatakan, pihak kepolisian masih melengkapi bukti-bukti dan saksi terkait masalah yang dituduhkan melanggar pasal 362 KUHP. Sesuai surat panggilan nomor: S. Pgl / IX / 2020 / Reskrim.Hingga Berita ini diturunkan pada Jumat 30 Oktober 2020.

Menurut Fransiskus Sagala, SH, kliennya di tuduh melakukan dugaan pencurian TBS sebanyak 20 tandan. Jika di kalkulasikan harga TBS ini total Rp 900.000, yang sebelumnya di tangani oleh pihak polsek Tayan Hulu pada bulan Agustus 2020 dan menahan mobil klienya di Polres Sanggau.

Dan pada bulan September kasus tersebut di limpahkan ke Polres Sanggau.
Julkarnain Sagala, SH dari LBH Pasmas Kalbar dan biro hukum forum Temenggung Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat, Kabupaten Sanggau, selaku Tim kuasa Hukum Amat Durani mengatakan, kasus ini tergolong tindak pidana ringan.

“Yang mana nilai kerugian atas perbuatan ini jika terbukti tindak Pidana pencurian tidak mencapai Rp. 2.500.000,-. Mengacu dari peraturan mahkamah Agung No 2 Tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan di bawah Rp 2.500.000,- artinya kasus kliennya ini masih dapat di selesaikan melalui mediasi yang melibatkan hukum Adat Dayak,” ungkap Julkarnain Sagala.

Ditambahkan Julkarnain Sagala mengingat perusahaan masuk di wilayah Kabupaten Sanggau ada kesepakatan dengan DAD dan para Tumenggungan setempat. Sehingga menurutnya, penanganan persoalan semacam ini bisa diselesaikan ditingkat Hukum Adat. Tinggal kebijakan polisi mengarahkan bagaimana melakukan mediasi antara pelapor dan terlapor.

“Pihak Polres telah memeriksa klien saya dan bahkan sudah turun ke TKP, namun sampai detik ini tidak ada kejelasan akan status klien saya,” ungkap Julkarnain Sagala kembali.

Julkarnain Sagala juga menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada penetapan tersangka, dan bahkan mobilnya yang di tahan tidak di kembalikan juga.

Julkarnain Sagala mengharap agar pihak penegak hukum mempertimbangkan hubungan perusahaan degan masyarakat agar dapat berjalan harmonis.

“perlu juga di ketahui, saat itu kliennya membeli tanah dengan luas 2 Hektar yang berdampingan langsung dengan kebun milik PT APS, dan sawit itu masuk dalam lokasi milik kliennya, dalam hal ini seharusnya perusahaan jangan arogan,”pungkasnya. (F. Manurung/CB. Hutagaol)