Masyarakat Minta Polsek Ketungau Hulu Sintang Jalankan PROMOTER POLRI,Kurang Bijak Dalam Tangani Kasus

Sintang- Centralberita.id- Polsek Ketungau Hulu Sintang Mengindakan Promoter POLRI,kurang bijak dalam menangani kasus pengeroyokan.
Dari hasil konfirmasi wartawan terkait dengan tuduhan pasal pengeroyokan,yang telah terjadi dibeberapa waktu lalu atas tuduhan bapak Gedeon terhadap bapak Johan, dimana bapak gedeon adalah seorang (Depkolektor)dari perusahaan FIF cabang Sintang.
Adapun bermulanya kejadian tersebut
berawal saat malam hari pada tgl 11 September tahun 2020 pukul,23:00 wib,
Gedeon selaku (Depcolektor) bersikeras hendak menarik Motor atas nama STNK milik bapak Peres yang diteruskan anak Bapak Jakaria ( jaka ) yang diketahui menunggak selama empat bulan berlalu,namun demikian angsuran tersebut sudah berjalan dua tahun.

Bapak Gideon sendiri tidak dapat menunjukan surat perintah penarikan dari FIF dan hanya membawa berkas bukti penyetorannya saja, kemudian menagih bapak Jaka dan meminta dengan paksa melakukan pembayaran setoran motor pada malam itu juga, karena bapak Jaka yang saat itu, sama sekali tidak membawa uang untuk membayar kepada Bapak Gideon sehingga bapak Jaka meminta waktu sampai keesokan hari nya.sampai- sampai niat baik bapak Jaka mengajak Gideon kerumahnya ,akan tetapi bapak Gideon masih saja keras hati tidak mau menghiraukan ajakan bapak jaka dan akhirnya ia memaksa dirinya meminta kepada bapak Jaka untuk melakukan pembayaran malam itu juga.

Diketahui pada malam itu Bapak Gideon saat menagih setoran kepada bapak Jaka dalam keadaan mabuk, dengan mengeluarkan nada bahasa memaksa yang tidak menyenangkan dalam melakukan penagihan.Maka dari situlah awal terjadinya dan percecokan mulut antara bapak Gideon selaku (Depcolektor) dengan bapak Jaka.
Masih dari situasi kericuhan,disebut disitu di mana dari post jaga sekurity yang posisi yang lumayan jauh dari TKP kala itu bapak Johan yang sedang bertugas sebagai security diwilayah kerjanya yang aktif pada PT.PLJ ( permata lestari jaya )dan sempat mendengar kericuhan di lokasi kantin dan langsung menghampiri ditempat kejadian tersebut hingga terdengar adanya keributan oleh bapak Johan.Sementara itu,diketahui percecokan itu terjadi antara bapak gideon dengan bapak Jaka yang terlihat saat dilokasi itu.Kemudian Bapak Johan mencoba berusaha untuk meleraikan dengan niat dapat memisah antara kedua orang tersebut, yakni Bapak Jaka dan Bapak Gideon.Belum lama menunggu reda percecokan itu berakhir, justru yang terjadi malah sebaliknya bahkan bapak Gideon yang saat itu kondisinya sedang mabuk,hingga memukul Bapak Johan dan dengan reflek dan tanpa sengaja bapak Johan mendorong bapak gedeon dengan lengan tengah sebelah kanan yang mengakibatkan bapak Gedeon jatuh terpental di atas parit kering. Namun Gideon masih sempat dibantu untuk bangkit kembali oleh Bapak Johan dengan niat hati yang tulus iklas.Hal itu disaksikan langsung oleh dua rekan securitynya yang bernama Billy dan Peres serta beberapa orang lainnya yang berada ditempat kejadian itu terjadi.Walaupun demikian
setelah kejadian tersebut bisa di diamkan sejenak sementara itu,ternyata didalam kekesalan dari Bapak Gideon masih melekat didalam benaknya iapun sempat mengucapkan kata dan menyebutkan bahwa dia adalah adiknya anggota dewan kabupaten Sintang, dengan tujuan untuk menakuti Bapak Johan dan kemudian ia langsung pergi begitu saja.

Kemudian kalo di lihat dari kejadian tersebut memang ada yang aneh dari Bapak gideon yang mengaku sebagai (Depcolektor) dari FIF cabang Sintang tidak bisa menunjukan legalitasnya atau Surat perintah penarikan dari FIF,dan lebih anehnya lagi bapak Johan dilaporkan oleh abang kandung Bapak Gideon yang seorang anggota dewan diwilayah kabupaten Sintang ke polsek ketungau hulu di jalan Bhayang senaning yang dikenakan pasal pengeroyokan Dangan surat panggilan nomor :s,pgl /06,a / ik / 2020 ,dan menghadap AIPDA HENDRI PURWANTO ,BPK Johan diperiksa sebagai tersangka dugaan penganiayaan dengan dikenakan pasal 351 KUHP atas pelaporan tgl 13 / 09 / 2020 ,ditgl ,29 /09 / 2020.
Polsek ketungau hulu Sintang dan juga memanggil bapak Jaka sebagai saksi ,atas kejadian tersebut ,dengan surat panggilan nmor : s,pgl ,/ 01,a /1X
[16/11 12.24] Fernando cb: /2020/ reskrim
Atas laporan polisi nmor : LP / 148 / 1X/ / res 16 / 2020 kal bar / reg ,Sintang / SPKT / tgl 13 / 09 / 2020 ,menghadap AIPDA HENDRI PURWANTO ,atas dugaan pengeroyokan pasal 170 KUHP ,ditgl 26 /09 / 2020

Terdapat adanya kejanggalan di ke 2 Pasal tersebut yang berbeda saat keduanya dipanggil sebagai saksi penganiyaan dan juga pengeroyokan, maka timbullah pertanyaan bahwa adanya dugaan kerjasama antara polsek ketungau hulu Sintang dengan Abang dari Gedeon anggota dewan di kabupaten Sintang yang dengan sengaja memanfaatkan jabatannya.Terkait atas kejadian antara bapak Gedeon dengan bapak Johan saat itu ,yang maksud dalam hal tersebut dilakukan hanya berniat untuk melerai sekaligus mencegah supaya perkelahian itu tidak berkelanjutan. Namun kenyataannya yang terjadi malah sebalik nya berubah haluan,
apakah hukum ini sudah tidak bisa berbicara karena jabatan seseorang?Dan kenapa yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan sehingga dihukum ini bisa diputar balikkan seperti roda dan diperjual belikan semaunya seperti barang yang ada dipasar?
Sungguh tidak masuk akal dalam pikiran, entah kenapa Ketika masalah pencegatan di pengaruh Àlkohol saat itu masih juga bisa melakukan pekerjaaannya yang tidak jelas status legalitasnya terutama surat perintah penarikannya secara paksa yang dilakukan oleh Gideon terhadap Kendaraan motor Roda Dua dari bapak Jaka yang tidak dipermasalahkan oleh Pihak Polsek ketungau Hulu,ada apa gerangan? sedangkan disini juga disimpulkan yang mana awal kejadian atau peristiwa hukumnya kata yohanes Amlan dari lembaga Tindak Indonesia yang di minta oleh bapak Jaka dan bapak Johan sebagai pendampingnya.

Menurut yohanes Amlan yang mendampingi Jaka dan Johan meminta kepada aparat polsek ketungau hulu untuk dapat bijak dalam menjembatani penyelesaian masalahnya secara musyawarah mufakat tanpa harus menggunakan pasal pasal yang justru akan memperumit masalahnya saja, karena akibat hukum nantinya.Dan lebih memprihatinkan lagi bagi keluarga mereka yang hanya mencari nafkah kesehariannya dengan mengharapkan dari hasil gaji yang sangat minim sekali didapatkan,”pungkas Yohanes Amlan.

( Fernando.M/Y.Amlan).