Masyarakat Minta Polsek Ketungau Hulu Bijak Dalam Menangani Kasus Pengeroyokan Di PT. PLJ

SINTANG (Kalbar), Centralberita.id Terkait dengan tuduhan masalah pengeroyokan beberapa bulan lalu yang tuduhan tersebut jatuh atas nama Johan oleh seorang Depkolektor dari Perusahaan FIF Cabang Sintang.

Kejadian berawal tepatnya tanggal 11 September 2020 pukul 23:00 WIB pada malam hari, ketika itu Gadion yang selaku Depkolektor, hendak menarik motor tentunya STNK tersebut atas nama Perez dengan nomor polisi KB 5688 EW.

Disebutkan bahwa atas nama Jaka menunggak selama 4 bulan, namun setelah masa 2 tahun mengangsur, dan dari Gadion sendiri tanpa adanya membawa surat perintah penarikan dari FIF Cabang Sintang, itupun hanya membawakan bukti penyetorannya saja.

Tanpa berpikir panjang lagi pada saat malam itu tiba, dengan nada memaksa, Gadion meminta setoran untuk pembayaran motor itu harus segera dilakukan. Saat itu, Jaka tidak membawa uang tunai hingga meminta tempo atau waktu untuk pembayarannya dilakukan pada esok harinya, namun dengan bersikeras Gadion mengatakan dengan nada memaksa Jaka untuk membayar pada malam itu juga, namun hal itu belum dapat di Kabulkan oleh Jaka.

Diketahui bahwa Gadion saat menagih angsuran setoran motor kepada Jaka pada malam itu, terlihat jelas kondisi Gadion diduga dalam keadaan mabuk dan tingkah lakunya seperti preman yang tidak menentu arah pikirannya. Jadi disitulah berawal dimana kericuhan tersebut dimulai, sampai terjadinya percekcokan adu mulut antar depkolektor dan konsumen.

Sementara itu, Johan yang bertugas sebagai security diwilayah kerja atau dibawah naungan PT. Permata Lestari Jaya, mendengar adanya keributan itu, secara spontan langsung turun ke lokasi kejadian perkara. Dan saat itu juga Johan dengan niat baiknya yang penuh tanggung jawab sebagai security dalam pengamanan, berhasil meleraikan kedua belah pihak tersebut.

Namun dalam peleraian terjadi keributan, yang terjadi bahkan Gadion yang diduga kondisinya dalam keadaan mabuk menyerang balik memukul Johan, dengan spontan, tanpa disengaja Johan mendorong Gadion dengan lengan siku hingga jatuh terpental.

Setelah Gadion jatuh beberapa saat kemudian,Johan merasa iba dengan kondisi Gadion yang terbaring begitu saja ditanah, lalu Gadion dibantu oleh Johan untuk bangkit kembali dari tempat dimana dia terbaring dan kejadian itu disaksikan langsung oleh kedua temannya yang sama propesinya sebagai security PT.PJL yakni Billi dan Perez serta beberapa orang yang berada di sekitar itu.

Setelah akhirnya peristiwa itu, Gadion masih diambang kekesalan dan masih merasa tidak puas akan kejadian itu, sehingga dia sempat menyebutkan bahwa dia adalah adik dari salah satu anggota dewan DPRD Kabupaten Sintang dengan maksud dari perkataan itu adalah untuk menakuti Johan.

Selanjutnya, dari akibat kejadian tersebut Johan dilaporkan ke Polsek Ketungau Hulu Kabupaten Sintang oleh abang kandungnya Gadion yang jabatannya adalah seorang anggota DPRD Kabupaten Sintang, hingga dikenakan atas pasal pengeroyokan.

Kemudian Polsek Ketungau Hulu memanggil saudara Johan dengan surat panggilan: s,pgl/01,a/1X/2020,untuk menghadap IPDA Hendri Purwanto.Kemudian Johan di periksa sebagai tersangka dugaan penganiayaan dan dikenakan pasal 351 KUHP atas pelaporan tanggal 13 September 2020, dan ditanggal 29 September 2020.

Jaka juga ikut dipanggil sebagai saksi dalam peristiwa itu,dengan surat panggilan nomor: s,pgl,/01,a/1X/2020/Reskrim.Atas laporan polisi nomor: LP/148/1X/res 16/2020 Kalbar/reg,Sintang /SPKT/tanggal 13/09/2020,menghadap Aipda Hendry Purwanto,atas dugaan pengeroyokan dengan pasal 170 KUHP, di tanggal 26/09/2020.

Dari surat laporan itu terdapat beberapa kejangalan di dalam dua pasal yang berbeda tentunya saat kedua dipanggil sebagai saksi penganiayaan dan pengeroyokan, maka dari itu timbullah suatu pertanyaan dugaan adanya kerja sama antara Polsek Ketungau Hulu Kabupaten Sintang dengan abangnya Gadion, anggota DPRD Kabupaten Sintang. Yang dengan sengaja memanfaatkan jabatannya atas peristiwa yang di alami oleh Gadion dengan Johan.

Permasalahan ini juga yang dikemukakan oleh Yohanes Amlan dari Lembaga Tindak Indonesia.

“Kenapa masalah percobaan perampasan dengan pengaruh alkohol saat melakukan pekerjaannya dan status legalitas surat perintah penarikannya secara paksa yang dilakukan Gadion terhadap sepeda motor bapak Jaka tidak di permasalahkan oleh pihak Polsek Ketungau Hulu. Sedangkan disinilah disimpulkan awalnya peristiwa hukum tersebut terjadi,” ujar Yohanes Amlan dari Lembaga Tindak Indonesia sebagai pendamping Jaka dan Johan pada Rabu (17/02/2021).

Yohanes Amlan meminta aparat Polsek Ketungau Hulu untuk dapat kiranya bijak dalam menjembatani penyelesaian masalahnya secara musyawarah mufakat. (Tim Kalbar)