DLH Angkat bicara Terkait Pabrik ‘Nakal’ Di Muncar

BANYUWANGI, Centralberita.id _ Ramai di perbincanhkan, dugaan pabrik atau perusahaan pengalengan dan penepungan ikan di Muncar yang diduga membuang limbah ke laut akhirnya ditanggapi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi.

Melalui Kepala Dinas Dinas Lingkungan (DLH) Banyuwangi, Chusnul Khotimah menjelaskan jika pihaknya sudah turun ke lapangan guna menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut.

” Kemarin staf bidang pengawasan sudah tinjau lapang dan ketemu warga serta Kades Kedungrejo. Melihat limbah yang ke pantai. Perlu telusuri sumbernya. Maka tim minta ke warga untuk membantu lakukan itu. Karena kasusnya di lakukan malam hari, ” ungkapnya, Rabu (31/3/21) kemarin.

Saat ditanya terkait apakah ada pabrik di wilayah Muncar yang memiliki ijin membuang limbah ataupun dumping ke lingkungan laut dengan syarat memenuhi baku mutu lingkungan hidup?, Khusnul dengan tegas menjawab belum ada.

“Untuk perusahaan yang outlet IPAL nya langsung laut, harus buat kajian untuk syarat IPLC (Ijin Pembuangan Air Limbah Cair) KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Di Muncar belum ada yang punya itu walaupun sudah ada IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” terangnya.

Sekedar diketahui, pada pasal 60 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan “Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin”.

Kemudian pada pasal 104 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan,
“Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/ atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah)”

Kejadian ini sudah bertahun tahun lamanya. Bahkan, dampak limbah itu menyebabkan gatal-gatal pada sekujur tubuhnya. Nelayan yang mayoritas adalah kaum wong cilik ini terasa resah merasakan dampak limbah pabrik, mulai dari limbah cair hingga padat.

” Jadi saat berenang itu, sekujur badan ini bukan lagi air laut, tetapi sudah berupa minyak-minyak ikan, ” kata Fauzan Adzima, seorang nelayan asal Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Jala Buang ini juga menyesalkan terhadap Pemerintah atas ketidak transparannya kepada warga masyarakat yang mencari nafkah hasil laut ini. Diduga, kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya tersebut serasa dibiarkan

” Pemerintah tutup mata, laporan ini menjadi labuhnya orang Muncar sendiri dan tidak ada respon sampai sekarang, coba lihat dan turun saja di lapangan, ” tegas Asmuni.

Kemudian, masih Asmuni, pihaknya juga membeberkan pabrik-pabrik yang diduga membuang limbah melalui saluran menuju ke laut maupun ke sungai. Diantaranya, PT. Kama Pris, Sumber Asia, Pasifik Harvest, Hongkong, Blambangan Raya.

Selanjutnya, PT Sari Laut, Sumberyala, Sareefid, Maya Muncar, PT. NP 1, Fising, dan PT. NP 2. Semuanya berada di wilayah Kecamatan Muncar.

Asmuni menegaskan, jika memang benar saluran limbah itu dibuang ke laut, maka dapat mengakibatkan pencemaran dan kerusakan ekosistem biota laut di perairan setempat.

” Jadi disini pembuangan limbahnya ada yang saluran drainase dari perusahaan langsung ke laut, dan ada juga yang dibuang ke sungai kemudian sungai mengalir ke laut, ” katanya

Hingga berita ini ditulis, beberapa pabrik pengalengan dan penepungan tersebut belum bisa dikonfirmasi wartawan. (Oni/ Rhm)

Tinggalkan Balasan