Oknum Kades, Oknum Polisi Dan Pengusaha Benur Minta Di Rehabilitasi, 5 Hal Ini Jadi Pertimbangannya

BANYUWANGI, Centralberita.id _ Penyidik Satres Narkoba Polresta Banyuwangi belum bisa mengambil keputusan apakah oknum 3P (Pejabat, Polisi, pengusaha) yang tertangkap tangan saat pesta sabu bisa direhabilitasi sesuai keinginannya tersebut atau tidak.

Berdasarkan informasi oknum Polisi Polsek Glagah saat ini tidak berada di sel tahanan Polresta Banyuwangi. Informasi yang berkembang, diduga tentang keluarnya ketiga orang tahanan dan saat ini berada di Surabaya dibenarkan oleh Kapolresta Banyuwangi, Kombespol Arman Asmara Syaifudin.

Menurutnya, ketiga orang tahanan tersebut telah mengajukan asessment kepada penyidik sesuai aturan perundang undangan.

“Ya benar ketiga pelaku berada di Surabaya dikawal oleh kasat Narkoba,” kata Arman.

Saat disinggung tentang kabar angin adanya uang 500 juta, mantan Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus (Wadir Krimsus) Arman menjawab jika itu tidak ada karena sesuai aturan tidak ada biaya.

“Itu gratis mas, hanya sesuai aturan memang hak tersangka,” kata Arman.

Sedangkan menurut Choirul Hidayanto selaku aktivis muda Banyuwangi berpendapat, “Saat ini memang Banyuwangi sedang dalam darurat Narkoba, tapi kita juga harus hormati langkah hukum yang ada,” ungkapnya saat dimintai pendapat oleh media pada Rabu (21/4/2021).

Menurutnya, “Kita harus sabar dan terus memantau proses sambil menunggu hasil assessment dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur. Hasil assesment itulah yang akan jadi pertimbangan untuk rehabilitasi. Dan assesment itu diajukan sebagai bentuk perhatian terhadap hak tersangka,” terangnya.

Ada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 2010 yang mengatur kriteria pecandu narkoba yang layak menerima fasilitas rehabilitasi medis. Salah satunya adalah pelaku yang saat ditangkap tangan ditemukan barang bukti untuk satu hari pemakaian dengan rincian 1 gram untuk metamfetamin atau sabu, 1,8 gram untuk kokain, 2,4 gram untuk ekstasi dan 5 gram untuk ganja.

Surat edaran tersebut juga sempat digunakan untuk menjadi alasan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat saat menolak permintaan terdakwa kepemilikan kokain Steve Emmanuel untuk direhabilitasi. Saat itu Polisi menyita kokain seberat 92,04 gram saat meringkus Steve.

Menanggapi Surat Edaran MA tersebut, Choirul juga menambahkan bahwa penentuan rehab itu tidak hanya dilihat secara parsial dengan menghitung besar kecilnya jumlah barang bukti.

“Melainkan dalam memutuskan rehab, polisi juga harus mempertimbangkan kesehatan tersangka dan rutinitas penggunaan. Faktor kelima yang juga jadi pertimbangan adalah keterlibatan tersangka dengan sindikat pengedar narkoba,” terang Choirul.

Menurutnya, “Karena assesment itu kan dilakukan oleh tim asessment terpadu, ada dokter, ada dari penyidik BNN, ada dari penegak hukum yang lain, jadi kita tunggu hasilnya baru melangkah selajutnya, dan saya mengajak semua teman-teman aktivis baik LSM maupun Media mari kita bersama-sama terus memantau dan mengawal kasus ini hingga selesai,” tutupnya. (ONI)